Rabu, 21 Januari 2009

sepotong bicara pada bulan

Sepotong bicara pada bulan

MUHAMMAD FAISAL KALANTANI

Bulan yang sudah sekian lama resah

Sekejap timbul sembunyi dari liuk dahan zaitun

(malam tidak lagi seri di tanah ini)

Salamku matahari! Kiranya esok kau bisa muncul lagi

Atau baiknya sahaja kau terusan bersembunyi dari malam

Meninggalkan bulan sepi, usahlah muncul kerna sore besok masih seperti ini

Bulan- masihkah ingat kamu pada resolusi 181

Sungguh bangsaku dianjingkan kerana angka itu

(celaka-hanya kerana itu)

Wahai bulan yang selalu resah- bicaraku

(untuk anak-anak di Jabaliya, ibu yang sudah kering air mata, tanah yang sebak dengan darah pemuda, parti-parti yang tidak sudahnya sengketa, juga saudara yang simpati hanya pada layar tv)

Apakah masih engkau nantikan Umar yang syaitan gerun padanya

Atau pada Salahuddin yang memimpin tentera tuhan

(sungguh sekian lama sudah sepi di kuburan)

Resahmu terkenangkan itu

Bulan yang selalu resah-sampaikan bicaraku pada tuhan

Ingatan bahawa aku tidak pernah putusnya berdoa

(mungkin besok malaikat menyambutnya di pintu langit, pada saat tuhan menerima bicaraku, matahari usahlah silu lagi)

Bulan usahlah resah lagi

Sungguh pada setiap desahan nyawa dan sela masaku

Aku tahu- kau tetap yang itu

Bulan tetap yang itu



(untuk artikel rujuk pada post blog di kategori ini cerita mereka)

1 comments:

Sayap Janna'im berkata...

waaah.
makin hebat ya berpuitis sekarang.
hehe teruskan menulis.
puisi yang bagus.